You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Pulukan

Desa Pulukan

Kec. Pekutatan, Kab. Jembrana, Provinsi Bali

Website Resmi Desa Pulukan : https://pulukan.desa.id Kode Desa : 51.01.03.2002. Kode POS : 82262. Email : pemdes@pulukan.desa.id / pulukandesa@gmail.com. Facebook ID : pulukan.pulukan Youtube : Desa Pulukan --- DEMI JEMBRANA PASTI BISA !!! --- Pemerintah Desa Pulukan mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi seluruh umat Hindu yang merayakannya

Sejarah Desa

Administrator 26 Agustus 2016 Dibaca 610 Kali
Sejarah Desa

Sejarah adalah rentetan peristiwa pada jaman lampau yang benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya baik berupa peninggalan maupun prasasti – prasasti lainnya. Demikian pula halnya dengan sejarah berdirinya Desa Pulukan yang sudah barang tentu dengan data yang valid dan kredibel. Namun data yang demikian sangat sulit untuk diperoleh,karena keterbatasan  pengetahuan dan kemampuan para pendahulu kita pada waktu mereka membuka hutan untuk lahan pertanian mapun pekarangan desa,sehingga penyusunan sejarah ini tidak mungkin lengkap dan jauh dari sempurna.

Agar sejarah desa Pulukan mendekati kebenaran,maka kami berupaya mendapatkan data dan informasi sebanyak-banyaknya dengan melakukan metode observasi dan intervieu sehingga terungkaplah sejarah berdirinya desa Pulukan sebagai berikut :

Konon menurut cerita orang tua bahwa kurang lebih ditahun 1874 desa Pulukan masih merupakan hutan belantara sama dengan desa - desa lainnya. Kemudian  atas usaha serta penelitian yang dilakukan oleh Pak Daris dan Pak Rais dari desa Air Kuning,Kecamatan Negara dapat menarik kesimpulan bahwa tanah yang dimiliki di desa ini cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian.

 

Oleh karena ketertarikannya akan tanah tersebut,maka dimohonlah lokasi tersebut kepada Pemerintah Belanda ( Kontrolir ) yang dibantu oleh Tuanku Raja,atas ijin Kontrolir dan Tuanku Raja,maka Pak Daris dan Pak Ra’is beserta rombongan yang berjumlah sekitar 100 orang berangkat menuju tempat ini dengan menggunakan transportasi laut yaitu Jukung dan sebagian berjalan kaki. Dengan segala ketabahan hati, mereka optimis bahwa wilayah yang mereka garap akan mampu merubah nasib diri serta anak cucunya kelak. Agar tidak terjadi perpecahan dan supaya tumbuh rasa senasib dan sepenanggungan,maka mereka sepakat untuk tetap berkumpul dalam satu rumah sebagai tempat peristirahatan,baik diwaktu siang maupun dimalam hari,tepatnya didaerah pesisir ( sekarang bernama Kampung Loji ).

Setelah rombongan ini dapat membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian,maka datanglah kontrolir melihat keadaan tanah dan rombongan, pada saat itu kontrolir berpesan :

  1. Agar rombongan segera membuat Pos Penjagaan untuk mencegah keluar masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab
  2. Agar di “vool” kan saja dalam satu tempat,sehingga mudah untuk mengawasi.

Atas saran dan kebulatan tekad untuk bersatu dikalangan rombongan itu,maka kata “Vool” dengan akhiran “kan” akhirnya lambat laun menjadi populer dan membudaya dengan ucapan “Voolkan” dan masyarakat lebih sering mengucapkan kata Voolkan tersebut dengan kata Pulukan,sehingga sebutan itu menjadi abadi sampai sekarang.

                 Kemudian kurang lebih tahun 1899 datanglah rombongan kedua sekitar 75 orang, mereka berasal dari Jawa Timur  dipimpin oleh Pak Suro dan Pak Sopowiro,dengan tujuan membuka hutan,setelah mendapat ijin dari Pemerintah Belanda dan Tuanku Raja maka merekapun membuka hutan disebelah utara.

                 Dari perbatasan hutan ini Pemerintah Belanda juga mengharap dikemudian hari dapat membuat perkebunan besar,namun hal ini tidak berhasil karena kurang cocoknya tanah,sehingga akhirnya Pemerintah Belanda mengalihkan perhatiannya kesebelah timur sungai Pulukan dan ternyata berhasil,sehingga pada akhirnya sampai saat sekarang ini dinamakan “Perkebunan Pulukan”.

                 Kemudian kurang lebih tahun 1910 dengan semakin berkembangnya kebutuhan,baik orang-orang yang berasal dari Air Kuning maupun Jawa Timur sepakat untuk membentuk sebuah desa demi terjalinnya kerukunan,keutuhan rasa senasib dan sepenanggungan,maka secara bulat mereka menamakan desa ini Desa Pulukan. Dengan demikian maka di tahun 1910 berdirilah secara resmi Desa Pulukan yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang Mekel bernama : PAK DARIS.

                 Sejarah berjalan terus,peristiwa demi peristiwa terjadi, terlebih-lebih pada tahun 1946,terjadi pertempuran melawan Belanda yang mana para pejuang pada saat itu adalah sebagai berikut :

  1. I GUSTI MADE MANTRA                        
  2. DAUD                                                       
  3. JEMA’UN                                                 
  4. KARTO                                                     
  5. KABUL                                                      
  6. PAK MASTURAH                                      
  7. NGARI                                                       
  8. PAK MASUDAH                                         
  9. SARIBUN                                                   
  10. JAHARI                                                                                                                                                                                                                                           

11. KAYADI

12. KIYAS 

13. SURATIJAN

14. BUAMIN

15. MAT SALIM

16. PAK PAYAH

17. NYOMAN RADI

18. SUJITNO

19. MUKIYO 

20. NENGAH PADANG 

21. SANIMIN

                 Orang - orang tersebut ikut membantu perjuangan melawan penjajah Belanda dibawah pimpinan Kolonel Markadi dan Letkol I Gusti Ngurah Rai,dimana rute yang ditempuh di Desa Pulukan sekarang ini dinamakan Jalan Ciung Wanara,sesuai dengan nama Pasukan I Gusti Ngurah Rai yaitu Pasukan Ciung Wanara.

                 Rotasi perkembangan Penduduk dan Pembangunan selalu mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi,sumber daya manusia,sumber daya alam serta perkembangan jaman,maka desa pulukan telah mengalami perubahan dari tahun ketahun sesuai dengan derap pembangunan sebagai perwujudan partisipasi masyarakat.